Entri Populer

Thursday, November 18, 2010

3rd FF "TRUE LOVE" chapter 5

TRUE LOVE (Chapter 5)

Donghae oppa tiba di rumahnya. Mendengar bunyi bel di pintu, Ji Hae langsung berlari membuka pintu.

“Appa!”, teriak Ji Hae seraya berlari memeluk appa nya.
“Ji Hae-ah, sedang apa?”, tanya Donghae sambil mencium pipi anaknya.
“Sedang bermain mobil-mobilan dengan Miyu noona”, jawab Ji Hae.
“Miyu noona? Dia datang kesini? Dimana dia?”, tanya Donghae heran.
“Itu. Dikamar Ji Hae, lagi tidur”, ucapnya polos.
“Oh… Kita masuk yuk”, ajak Donghae.
“Ne”, sahut Ji Hae.

Donghae berjalan menuju kamar Ji Hae. Dan melihatku ketiduran akibat kelelahan menjaga Ji Hae.

“Ah… Anak ini, baru menjaga sebentar saja. Sudah kelelahan”, ucap Donghae pelan.

Tak terasa sudah pukul 8 malam. Donghae oppa menelepon Min Yu untuk segera menjemputku. Min Yu pun datang dan kami pulang.

Keesokan harinya, bel rumah kami berbunyi. Min Yu yang sedang berada di lantai bawah, segera membuka pintu.

“Annyeong, Mi… Miyu?”, sapa Jisoo heran.
“Heheh… Aku Min Yu. Saudara kembar Miyu. Bangapseumnida”, ucap Min Yu seraya membungkukkan badan.
“Pantas saja. Aku pikir, kenapa Mi yu berdandan jadi laki-laki? Heheh…”, tawa Jisoo.
“Hehehe… Ayo masuk”, ajak Min Yu.
“Oh ia. Aku Park Ji Soo. Kau bisa memanggilku dengan Ji soo noona. Bangapseumnida”, ujar Jisoo.
“Ne, Jisoo noona. Mau mencari Miyu, ya?”, tanya Min Yu.
“Ne. Bisa tolong panggilkan?”, pinta Jisoo.
“Tunggu sebentar ya noona”, ucap Min Yu.

Tak beberapa lama. Min Yu turun ke lantai bawah.

“Noona masuk saja ke kamarnya. Di lantai atas. Ayo biarku antar”, suruh Min Yu.
“Ne”, sahut Jisoo.

Jisoo masuk ke kamarku.

“Miyu”, panggil Jisoo.
“Eh, Jisoo onnie. Ada apa?”, tanyaku heran.
“Aku semalam bertemu dengan oppa mu di café. Dia terlihat sangat murung. Lalu, ketika dia pulang. Leeteuk mengatakan padaku yang sebenarnya. Bahwa istrinya Donghae baru saja meninggal. Aku turut prihatin, Miyu-ah”, ucap Jisoo sedih.
“Ne, onnie. Oppa sangat terpukul”, sahutku.
“Aku juga dengar bahwa anak lelaki Donghae berulang kali menanyakan dimana eomma nya. Namun belum ada yang mengatakan yang sebenarnya padanya”, ucap Jisoo.
“Ne. Kami tidak mau membuatnya sedih”, balasku.
“Tapi, apakah tidak sebaiknya kalian katakan saja yang sebenarnya?”, tanya Jisoo.
“Aku rasa ia. Tapi untuk sekarang, sangat sulit rasanya”, jelasku.
“Hmm… Maukah kau mengantarku ke rumah Donghae?”, pinta Jisoo.
“Ne. Tentu saja. Mau pergi sekarang?”, tanyaku.
“Ne”, jawab Jisoo.

Kami berangkat ke rumah Donghae. Namun, Donghae oppa sedang bekerja. Yang ada hanya Ji Hae.

“Noona”, sapa Ji Hae.
“Ji Hae. Apa kabar?”, tanyaku.
“Baik. Ini siapa noona?”, tanya Ji Hae seraya menatap kearah Jisoo.
“Oh ia, aku Park Ji Soo. Bangapseumnida, Ji Hae”, sapa jisoo.
“Ne. Apa kau pacarnya Donghae appa?”, tanya Ji Hae polos.
“Ah, aniyo. Aku temannya”, sahut Jisoo malu.
“Heheh… Wajah Jisoo noona memerah. Hahaha…”, tawa Ji Hae.
“Sudah, sudah. Kita main di dalam yuk?”, ajakku.
“Ne”, Ji Hae mengangguk.

Aku membersihkan rumah sementara Jisoo onnie menemani Ji Hae bermain.

“Noona”, panggil Ji Hae pada Jisoo.
“Ne. Waeyo, Ji Hae?”, sahut Jisoo.
“Jisoo noona itu cantik, baik, ramah dan seumuran dengan appa. Lalu, kenapa noona tidak menikah saja dengan appa?”, tanya Ji Hae polos.
“Mwo? Eh… Bukan begitu. Lalu bagaimana dengan Shin Hee eomma?”, tanya Jisoo malu.
“Kalian jangan terus-terusan menyembunyikan semuanya dariku. Eomma sudah meninggal. Eomma menderita sakit parah. Benarkan?”, tanya Ji Hae balik.
“Ji Hae… Darimana kau tahu itu semua?”, tanya Jisoo heran.
“Eomma mengatakan itu sendiri padaku”, jawab Ji Hae.
“Jinjja? Maksudmu?”, tanya Jisoo penasaran.
“Sebelum eomma dirawat di Rumah Sakit. Eomma bilang bahwa eomma menderita sakit yang sangat parah. Dan bisa meninggal kapan saja. Dan ia bilang, jika ia tidak kembali berarti ia sudah meninggal”, jelas Ji Hae dengan bijaknya.
“…”, Jisoo hanya terdiam mendengar ucapan Jisoo.
“Jinjja?”, tanyaku yang sedari tadi mendengarkan ucapan Ji Hae.
“Miyu noona?”, panggil Ji Hae.
“Heheh… Mianhaeyo, aku tidak sengaja mendengarkan omongan kalian”, ucapku.
“Aniyo, noona. Justru bagus jika noona tahu yang sebenarnya”, sahut Ji Hae,.

Aku mendekati Ji Hae dan memeluknya erat.

“Mianhaeyo, Ji Hae. Noona tidak mengatakan yang sebenarnya padamu. Mianhae”, ucapku sambil menangis.
“Gwenchanayo, noona”, ujar Ji hae.

Tak berapa, Donghae oppa tiba di rumah. Melihat pintu rumah yang tak dikunci dan Ji Hae yang tak membukakan pintu. Donghae oppa langsung menuju ke kamar Ji Hae.

“Ji Hae”, panggil Donghae.
“Appa”, sahut Ji Hae.
“Ada apa ini?”, tanya Donghae heran melihat kami.
“Donghae-ssi”, sapa Jisoo lembut.
“Jisoo-ah, ada apa?”, tanya Donghae.
“Ji Hae sudah tahu yang semuanya. Mulai dari eomma nya yang sakit dan sudah meninggal”, jawab Jisoo.
“Mwo? Siapa memberitahukannya?”, tanya Donghae kaget.
“Appa. Eomma yang memberitahukannya padaku sebelum eomma dibawa ke Rumah sakit”, ucap Ji Hae menenangkan appa nya.
“Jinjja?”, tanya Donghae tak percaya.
“Ne”, sahut Ji Hae.

Ji Hae menjelaskan semuanya. Dan membuat kami terkagum akan kemampuannya.

“Appa, menikahlah dengan Jisoo noona”, pinta Ji Hae dengan polosnya.
“Mwo?”, teriak Donghae terkejut.
“Ji Hae, kenapa bilang begitu?”, tanya Jisoo malu.
“Aku ingin seorang eomma, appa. Aku mau Jisoo noona jadi eomma ku. Aku sayang Jisoo noona. Dan lihatlah nama kita, Jisoo+Donghae=Ji Hae. Benarkan?”, ucap Ji Hae seraya tersenyum manis.
“Jeongmal? Wah, benar. Ji Hae hebat!”, teriakku seraya memeluk Ji Hae.
“Heheh… Bukan Ji Hae namanya, kalau tidak hebat!”, ujarnya bangga.

Sementara aku bercanda dengan Ji Hae. Donghae oppa dan Jisoo onnie hanya saling berdiam diri.

“Ah, aku permisi ya”, pamit Jisoo.
“Hmm… Jisoo-ah”, panggil Donghae.
“Waeyo?”, tanya Jisoo malu.
“Hmm… Besok kalau kau mau, kau boleh mampir lagi kesini. Kapanpun juga boleh kok”, ujar Donghae yang pipinya mulai memerah.
“Jinjja? Ne. Aku akan kesini lagi. Aku ingin sekali bermain dengan Ji Hae lagi. Hmm… Baiklah, permisi”, pamit Jisoo lagi.
“Ne. Hati-hati ya”, ucap Donghae.

Sore harinya, aku telah sampai dirumah. Handphone ku berdering dan di layar tertera nama ‘Wookie’.

“Yeoboseyo?”, sapaku.
“Miyu-ah”, sahut Ryeowook sedih.
“Waeyo, Wookie? Kedengarannya kau sedang sedih?”, tanyaku.
“Aku akan ceritakan padamu. Tapi, maukah kau pergi ke taman?”, pinta Ryeowook.
“Ne. Aku akan segera kesana”, ucapku.
“Gomawo”, balas Ryeowook seraya menutup handphone nya.

Aku tiba di taman. Tampak seorang cowok mungil sedang duduk bersama seekor anjingnya.

“Wookie”, sapaku.
“Miyu-ah”, sahut Ryeowook.
“Waeyo?”, tanyaku heran.
“Aku sudah tahu yang sebenarnya”, ujar Ryeowook sedih.
“Yang sebenarnya? Apa itu?”, tanyaku penasaran.

No comments:

Post a Comment

not for bashing! thank you for your attention, gals :) be happy to share with me!